Latar Belakang MasalahDi dunia ini setiap manusia akan selalu memerlukan suatu pendidikan

Latar Belakang MasalahDi dunia ini setiap manusia akan selalu memerlukan suatu pendidikan. Pendidikan merupakan usaha sadar dan terencana untuk mewujudkan suasana belajar dalam proses pembelajaran secara aktif mengembangkan kompetensi diri untuk memiliki kekuatan spiritual keagamaan, pengendalian diri, kepribadian, kecerdasan, akhlak mulia serta keterampilan yang diperlukan dalam kehidupan bermasyrakat, berbangsa, dan bernegara ( sanjaya, 2006:2 ).

Pengembanagan potensi SDM dan perkembangan IPTEK saat ini sangat mempengaruhi kemajuan suatu bangsa. Kondisi ini menyebabkan terjadinya persaingan antar bangsa, termasuk bangsa Indonesia didalamnya. Menghadapi persaingan tersebut perlu adanya kemajuan suatu bangsa dari berbagai kemampuan dan keterampilan. Untuk dapat menciptakan kemajuan tersebut, dibutuhkan SDM yang berkualitas ( zubaedi, 2011:74 ).

We Will Write a Custom Essay Specifically
For You For Only $13.90/page!


order now

Untuk dapat melahirkan SDM yang berkualitas adalah dengan pendidikan formal. Dengan adanya pendidikan formal bangsa ini mungkin bisa maju. Tetapi, pada kenyataan nya pendidikan formal di Indonesia masih kurang baik. Hal ini ditunjukkan oleh adanya mutu pendidikan yang rendah dan sistem disekolah yang kurang mendukung. Jika keadaaan ini masih terus berlanjut maka akan menimbulkan kekhawatiran bagi lembaga pendidikan dan orang tua.
Untuk mengatasi kekhawatiran tersebut, lembaga pendidikan terus berupaya meningkatkan kualitas pembelajaran. Adapun upaya yang dilakukan untuk meningkatkan kualitas pembelajaran antara lain: 1) meningkatkan kualitas tenaga pendidik; 2)menumbuhkan minat siswa dalam belajar . Salah satu upaya terpenting meningkatkan kualitas tenaga pendidik. Kualitas tenaga pendidik dapat mempengaruhi kualitas peserta didik. Dalam hal ini, yang dimaksud sebagai tenaga pendidik adalah guru. Salah satu masalah yang sering ditemui oleh guru adalah lemahnya tingkat berpikir peserta didik. Upaya yang dilakukan oleh guru untuk mengatasi masalah tersebut dengan merancang dan melaksanakan pembelajaran yang utuh agar pembelajaran menjadi lebih bermakna. Pembelajaran bermakna yang dimaksud adalah siswa dapat memahami konsep-konsep yang dipelajari melalui pengalaman secara langsung. Konsep terpenting dalam pembelajaran yaitu selalu ada upaya dari waktu ke waktu dalam pembelajaran yang sedang berlangsung dengan harapan mendapatkan hasil yang maksimal, salah satunya adalah pembelajaran matematika.
Peranan matematika sangat penting dalam kehidupan dan perkembangan pengetahuan. Mengingat hal tersebut, sudah seharusnya konsep-konsep yang ada dalam matematika dapat dipelajari dengan baik oleh siswa. Namun, pada kenyataannya tidak sesuai dengan harapan. Pada umumnya matematika merupakan mata pelajaran yang kurang disukai siswa. Hal tersebut menyebabkan rendahnya minat belajar matematika siswa. Banyak faktor yang menyebabkan minat belajar matematika rendah, diantaranya adalah rendahnya motivasi berprestasi siswa, kurang percaya dirinya siswa, rendahnya sikap positif siswa terhadap matematika.
Russeffendi (1991) mengemukakan bahwa terdapat banyak anak-anak yang setelah belajar matematika bagian yang sederhanapun banyak yang tidak dipahami, banyak konsep yang dipelajari secara keliru dan matematika dianggap sebagai ilmu yang sukar, ruwet dan banyak memperdayakan. Kesulitan belajar yang timbul ini tidak semata-mata bersumber dari siswa, tetapi bisa juga bersumber dari penyajian pembelajaran yang dilakukan oleh guru yang tidak atau kurang menarik, sehingga siwa tidak berminat belajar matematika. Siswa sebagai subjek belajar salah satu penyebab kurangnya minat siswa dalam belajar matematika, adalah dalam proses pembelajaran matematika masih didominasi paradigma mengajar dengan ciri-ciri sebagai berikut: guru aktif menyampaikan informasi, siswa pasif menerima; peserta didik dipaksa mempelajari apa yang diajarkan pendidik dengan sanksi mendapat hukuman jika tidak mengerjakan tidak dengan menumbuhkan kesadaran dan kebermaknaan dari proses belajar; siswa sangat bergantung pada guru sehingga kompetensi siswa kurang berkembang; kesempatan untuk melakukan refleksi dan negosiasi antar siswa, atau dengan guru juga kurang dikembangkan.
Kondisi ini seharusnya diubah dengan menempatkan siswa sebagai subjek yang belajar secara aktif membangun pemahamannya (learning) dengan jalan merangkai pengalaman yang dimiliki dengan pengalaman baru dijumpai. Suyatno (2009) mengemukakan bahwa pengalaman nyata yang dijumpai dinegara lain menunjukkan, minat dan prestasi siswa dalam bidang matematika meningkat secara drastispada saat peserta didik dibantu untuk membangun keterkaitan antara informasi (pengetahuan) baru dengan pengalaman (pengetahuan lama) yang telah mereka miliki atau mereka kuasai. Guru sangat berperan penting dalam membangkitkan minat belajar siswa terhadap pelajaran yang akan diajarkannya. Keberhasilan pembelajaran pada ranah kognitif dan psikomotor sangat ditentukan oleh kondisi afektif siswa. Siswa yang memiliki minat belajar dan sikap positif terhadap pelajaran akan merasa senang mempelajari mata pelajaran tersebut, sehingga diharapkan dapat mencapai hasil belajar yang optimal. Siswa yang memiliki minat terhadap suatu mata pelajaran, cenderung untuk memberikan perhatian atau merasa senang yang lebih besar kepada pelajaran tersebut. Namun apabila pelajaran tersebut tidak menimbulkan rasa senang, ,maka ia tidak akan memiliki minat pada pelajaran tersebut.